Showing posts with label narasi. Show all posts
Showing posts with label narasi. Show all posts

Thursday, June 28, 2012

Child Prodigy: The Artisan


There's science in every art. And there's art in every science. That's why the "art and science" often placed together into one single museum. A golden section. 

10 Juni 05:27, 
Lukisan pertamaku di bulan ini akhirnya selesai juga. Dan sejauh ini, lukisan inilah yang paling aku suka. Bercerita tentang seorang wanita Italia yang sedang berkelana mencari kebebasan ditemani oleh seekor kuda poni kesayangannya. Menurutku ini romantis. Indah. Seolah lukisan ini bercerita dengan sendirinya. Aku beri judul "The Blue Lady"

12 Juni 20:15, 
Lagi - lagi ayahku menemukan lukisanku. Kali ini ayah benar - benar marah besar! Ayah tidak suka aku menggeluti dunia seni, menurutnya aku masih belum mengerti apa itu seni, dan seniman tidak mempunyai masa depan. Aku rasa ayah yang belum bisa memahami apa arti seni bagiku. Hari ini, "The Blue Lady" tersobek menjadi 6 bagian. Aku menangis. 

18 Juni 12:05, 
Aku memulai hari pertama home schooling. Ayah sangat menginginkanku melanjutkan kejeniusannya dalam bidang science yang telah membuahkan banyak penghargaan dan pengakuan di Italia. Aku bangga dengannya, namun aku rasa itu bukan jalanku. Aku samasekali tidak tertarik dengan rumus dan angka - angka. 

28 September 24:00, 
Ayah kembali memergoki saat aku sedang melukis di loteng. Ia marah besar seperti biasa, namun kali ini aku tidak diam saja. Aku berusaha memberikan pengertian mengenai minat dan masa depanku kelak. Dan seperti dugaanku, aku dihukum tidak boleh keluar dari loteng sampai waktu yang tidak ditentukan. 

Aku Beetlegeuse Picasso, dan -maaf ayah- aku harus mengejar mimpiku.

Child Prodigy: The Executor


When joy and sorrow merge together, they'll tell us what a messed up paradigm really is. 

Aku terus berlari sekencang - kencangnya, menyusuri jalan - jalan sempit di kota Paris. Melewati kedai - kedai makanan yang mulai bermunculan kala petang menjelang. Dua orang bersenjata tersebut masih belum menyerah. Mereka terus membuntutiku dari belakang sambil sesekali mengarahkan pistolnya kepadaku. Aku takut. Amat sangat takut. Namun yang ada di pikiranku sekarang hanyalah menyelamatkan diri dari dua orang mafia berjubah tersebut. 

Aku bersembunyi di balik gerobak buah tak jauh dari pasar. Aku masih bisa melihat kedua mafia tersebut berlari mendekat dari celah di antara gerobak. Namun kali ini sepertinya mereka telah kehilangan jejakku. Mereka terus berlari menjauh, dan semakin jauh. Akhirnya aku bisa menghela nafas sejenak. Aku masih belum berani keluar dari tempat persembunyianku saat ini. Aku sudah tersesat terlalu jauh dari rumah. Dan seketika itu aku menangis. 

Ini terlalu mengerikan untuk anak seusiaku. Aku mengingat kejadian dirumah tadi siang. Dua orang sahabat ayah dan ibu datang berkunjung. Mereka bersenda gurau bersama di ruang tamu. Namun dalam sekejap suasana berubah menjadi ricuh, dan semua terjadi begitu cepat. Aku yakin, ayah dan ibu sudah berada di surga sekarang. Dan orang yang merenggut nyawa mereka kini mengincar nyawaku juga, mungkin karena akulah satu - satunya saksi hidup yang melihat semua kekejaman yang telah mereka lakukan. 

Aku tidak mengerti mengapa manusia bisa begitu kejam? Aku samasekali tidak paham dengan permasalahan orang - orang dewasa yang terlampau pelik. Kupikir ini terlalu berat bagiku. 

Aku Mioya Abigail, dan aku akan membalas semuanya.

Child Prodigy: The Mechanic


Bow and arrow, in the proper hands, they'll sure become more lethal than an atomic bomb. 

Strike! 


Ini target bergerak ke delapan yang berhasil kutembak berturut - turut. Hanya butuh sebelas piringan target lagi untuk dapat memecahkan rekorku yang kemarin. Ini hobiku, dan memang kurang lazim untuk anak seusiaku. Teman - temanku bahkan belum diperbolehkan untuk memegang senjata api sungguhan. Namun segala keinginanku selalu dikabulkan oleh kedua orang tuaku. Ayahku adalah salah satu orang terkaya di seluruh daratan Rusia. 


Aku punya lapangan tembak pribadi! Haha! 

Ya, memang aku akui mungkin aku agak sedikit berlebihan. Oke, mungkin sangat berlebihan. Semua permintaanku selalu dikabulkan secepat kilat tanpa terkecuali. Aku sangat menikmati hal ini, namun tidak ada yang lebih mengasyikan daripada latihan menembak. Aku juga senang membongkar senjata - senjata api koleksi ayah. Entah mengapa, aku senang dengan barang - barang mekanik semacam itu. Menurutku benda - benda itu memiliki cara kerja yang ajaib. Sungguh membuatku gila! 

2 Desember 19:58, 
Aku latihan menembak di halaman depan. Aku sengaja melakukannya di malam hari untuk menguji night vision google modifikasiku sendiri. Aku menggunakan google itu untuk mencari target yang sudah disembunyikan di taman oleh para pelayan rumahku. Asik sekali rasanya mencari target - target itu di sekitar pekarangan. Kemudian aku melihatnya. Bergerak. 


Kena kau! Teriakku girang. Dua target sekali tembak! 

Aku berniat melemparkan googleku ke udara untuk merayakan kemenangan, namun aku tertegun ketika melihat pemandangan mengerikan yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. 

Kedua target itu adalah ayah dan ibu..

Panggil aku Alan. Alan kalashnikov. Aku akan membayar perbuatanku, dan akan kubuktikan bahwa senjata adalah alat menuju perdamaian.

Child Prodigy: The Scientist


Human can define their own world with their own understanding of nature and it's clockwork behind the scene.. 


Denpasar, 1 November 09:31. 
Sudah hampir 2 jam aku duduk di meja belajar dan masih berkutat dengan soal - soal fisika yang kudapat dari penjual buku bekas didekat rumahku kemarin. Aku masih penasaran untuk menyelesaikan semua permasalahan yang tertulis mulai dari mekanika fluida sampai hukum gaya Newton yang menurutku sangat menarik untuk ditelaah.


Aku memang memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar. Entah mengapa ketertarikanku jatuh kepada penelitian di bidang science. Menurutku banyak sekali hal di alam semesta yang belum diketahui oleh manusia walaupun sudah beribu - ribu kali kita alami tanpa sadar. Bahkan kita belum memahami sepenuhnya tentang manusia itu sendiri.


Hidrogen dan oksigen adalah bahan bakar alami yang tersedia di alam lepas, namun ketika keduanya bersatu, mereka membentuk sebuah senyawa yang justru sangat ampuh untuk memadamkan kobaran api. Dua buah atom hidrogen yang bersenyawa dengan sebuah atom oksigen. H2O, atau kita biasa menyebutnya "air". Dan 80% tubuh kita terdiri dari air. 


Menarik bukan? Cukup menarik bagiku.


Pagi ini ayah dan ibu kembali bertengkar seperti biasa. Ah, sudah bosan rasanya mendengar mereka berdua saling mencemooh satu sama lain. Karena itu aku lebih merasa nyaman berada di dalam kamar dan mengarungi dunia lewat buku - buku yang aku dapat dari berbagai macam tempat. Aku tidak peduli dengan urusan orang dewasa yang terlihat membosankan dan terkadang terasa menyedihkan. Buku - buku ini tidak pernah membuatku bosan, apalagi sedih. Disinilah duniaku. Tak peduli dengan omong kosong yang keluar dari mulut orang - orang dewasa. Aku benar - benar merasa hidup, bahkan serasa menggenggam seluruh dunia di dalam telapak tanganku.


Aku tidak tahu aku akan jadi orang dewasa seperti apa nanti.


Namaku Tesla. Timo Tesla. Aku sudah tidak tahan lagi berada di rumah ini.

Tuesday, June 26, 2012

Kemana Joni



Joni tak tau arah.
Berkelana keliling ranah.
Kedua kakinya memijak tanah.
Bola matanya perlahan memerah.
Namun bukan karena marah.
Bukan juga perkara Sarah.
Apalagi tentang Azizah.
Memang dasar akal yang tak terasah.


Hati Joni mulai jengah.
Jiwanya terlampau gerah.
Emosi meluap hampir tumpah.
Memang bukan hal yang mudah.
Bagi joni semua terserah.
Namun Joni tetap tidak menyerah.
Samasekali tidak pernah.


Di kala sepasang harus terpisah.
Ketika akar perlu ditelaah.
Sedikit demi sedikit maka terlihatlah.
Tumpukan yang lambat laun terus bertambah.
Menjulang tinggi bagai leher jerapah.
Menjulur panjang bagai belalai gajah.
Layaknya kali dengan gunungan sampah.
Benarlah hanya sekedar sumpah serapah.


Joni pakai baju berkerah.
Melangkah mantap menuju kawah.
Sambil menggenggam busur dan panah.
Semua orang jadi terperangah.
Tak pernah Joni begitu gairah.
Bagai luka yang menjadi nanah.
Hanya Joni yang tahu masalah.


Joni tersapu air bah.
Berenang seperti anak bocah.
Terapung bagai sayur dalam kuah.
Lebih keruh dari minyak jelantah.
Lebih lengket dari tetesan getah.
Perjalanannya untuk memenuhi titah.
Joni tidak sanggup membantah.
Maka sampailah Joni di antah berantah.


Joni pakai baju zirah.
Di punggungnya tersemat jubah.
Perangainya terlihat sangat gagah.
Percaya dirinya pun melimpah ruah.
Tidak takut dengan peluru timah.
Menenteng pedang berbilah - bilah.
Karang pun dapat Joni belah.
Layaknya memotong buah.
Baginya bukanlah hal yang susah.


Joni tak henti menjelajah.
Melewati bermacam wilayah.
Sesekali singgah membangun kemah.
Banyak tempat yang belum terjamah.
Terkadang Joni merasa tak betah.
Namun Joni bukan penjajah.
Joni tak berkelana mencari rempah.
Melainkan pemuda yang ramah tamah.
Senyum lebar terpasang di wajah.
Layaknya bunga mekar merekah.


Joni hanya berbekal petuah.
Tak peduli atas dan bawah.
Tak ragu dan tak resah.
Menurutnya memang tak usah.
Toh tak ada siapa - siapa di sebelah.
Baik sebelum maupun setelah.
Akal dan keringat terus ia perah.
Walau usahanya tak dibayar murah.
Joni tidak berharap dapat hadiah.


Joni pulang ke rumah.
Jalannya harus dipapah.
Kondisinya sangat parah.
Tangannya berlumur darah.
Kaki kirinya patah.
Sekujur tubuhnya basah.
Perutnya serasa ingin muntah.
Wajahnya terlihat sangat lelah.


Joni memang tak pandai bersilat lidah.
Joni tak mampu banyak berkilah.
Terkadang Joni memang payah.
Dan sekarang terjawablah sudah.
Bahwa Joni akan selalu salah.
Bahwa Joni akan selalu kalah.
Sedikitpun bukan fitnah.
Ini adalah sebuah kisah.


Tentang Joni si orang - orangan sawah.

Monday, October 17, 2011

Monokromatik



Buku itu berjudul ‘Monokromatik’. 
Terpapar jelas pada sampul buku tersebut, lengkap dengan tampilan bernuansa hitam dan putih. Jelas hal itu sungguh menarik perhatianku, seolah menggelitik jemariku untuk membuka halaman demi halaman pada buku itu.  Segera kuraih buku misterius tersebut dari atas meja, kemudian mencari tempat yang nyaman untuk mulai membacanya.


‘Monokromatik’. Tanpa nama pengarang. “Buku yang aneh” Pikirku. Aku sudah tidak sabar lagi untuk membaca isi buku itu. Dengan semangat, aku membuka halaman pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.


Buku itu mengisahkan tentang seorang pria yang sedang tersesat di tengah kebingungan. Entah apa yang sedang terjadi padanya, bahkan ia sendiri tidak tahu sedikitpun mengenai situasi yang sedang ia alami. Pria dalam cerita itu sedang berada di sebuah ruangan bernuansa serba hitam putih. Kemudian pria itu mulai mempertanyakan banyak hal. Dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana yang menyadarkannya bahwa ada sesuatu yang salah sedang terjadi.


“Siapa aku?”


Pertanyaan itu diikuti oleh sederetan pertanyaan - pertanyaan lainnya yang semakin membuatnya bingung dan takut.


“Dimana aku?”
“Mengapa aku disini?”
“Bagaimana aku bisa sampai disini?”
“Hari apa ini? Tanggal berapa? Jam berapa?!”


Dan terlintaslah sebuah pertanyaan yang paling mengerikan baginya:


“aku ini apa?”


Dia berpikir. Setidaknya ia berusaha untuk berpikir. Berpikir logis. Rasional. Namun apa daya, seolah - olah ia memang baru dilahirkan disana pada saat itu juga. Ia pun panik. Sangat panik.


Ditengah kepanikannya, ia mendengar suara - suara aneh yang memecah keheningan di dalam ruangan. Suara - suara gesekan kertas. Seperti seseorang sedang asik membolak - balik halaman buku. Namun ia tidak berhasil menemukan sumber suara tersebut. Aneh. Dan seketika suara itu berubah sunyi. Hening. Diakhiri oleh suara dentuman.


“Sepertinya ‘orang itu’ sudah menutup bukunya.” Begitu pikirnya.


Sejenak ia melupakan kebingungan dan kepanikannya. Ia melihat sebuah buku yang tergeletak di atas meja. Entah mengapa buku itu terlihat amat sangat menarik baginya.


Buku itu berjudul ‘Monokromatik’. 
Terpapar jelas pada sampul buku tersebut, lengkap dengan tampilan bernuansa hitam dan putih. Jelas hal itu sungguh menarik perhatiannya, seolah menggelitik jemarinya untuk membuka halaman demi halaman pada buku itu.  Segera ia raih buku misterius tersebut dari atas meja, kemudian mencari tempat yang nyaman untuk mulai membacanya.


‘Monokromatik’. Tanpa nama pengarang. “Buku yang aneh” Pikirnya. Dia sudah tidak sabar lagi untuk membaca isi buku itu. Dengan semangat, dia membuka halaman pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.


“Hei! Ada apa ini?!” 


Aku segera tersadar bahwa ada yang aneh dengan cerita dalam buku itu. Bagaimana mungkin buku itu bisa menceritakan hal yang persis sekarang sedang kulakukan? Namun kemudian, aku berusaha mengingat apa yang sebenarnya sedang kulakukan disini. Hmm..


Tunggu dulu,


Dimana aku?
Mengapa aku ada disini??
Siapa aku??
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?!?


Aku menangis. Entah apa alasannya, aku hanya menangis begitu saja. Terlintas di benakku bahwa aku hanyalah sekedar tokoh dalam sebuah cerita. Dan saat ini ada seseorang yang sedang membaca kisahku.


Aku ini apa??



Muhammad Iskandar Satriyo Utomo

Monday, August 15, 2011

Bunga Kupu - Kupu


Suatu hari di siang yang cerah, aku duduk di bawah pohon rindang. Aku tertegun sejenak melihat seekor kupu – kupu ungu hinggap di ujung jemari kakiku.  Aku menahan nafas untuk beberapa saat. Namun kupu – kupu itu sepertinya sedang tergesa – gesa oleh sesuatu. Ia segera terbang melayang menjauh dariku. Sedih rasanya, tapi apa daya tubuhku memang terlalu malas untuk mengejarnya. Toh, tidak akan aku apa – apakan juga setelah kutangkap nanti. Sebaiknya aku kembali ke dalam duniaku yang sempat teralihkan oleh si kupu – kupu ungu.


Di depan aku melihat setangkai bunga berwarna putih tak jauh dari kakiku. Aneh, aku tidak menyadarinya sejak tadi. Atau memang ia baru tumbuh? Entahlah. Aku tidak tahu bunga jenis apa itu, tapi bunga itu dapat menarik seluruh perhatianku hingga aku sudah tidak peduli lagi pada kupu – kupu ungu tadi. Sepertinya bunga ini sengaja menggodaku untuk memetiknya. Namun aku kembali berpikir, untuk apa ya? Lalu dimana senangnya kalau aku hanya memiliki setangkai bangkai bunga di dalam kantong? Aku tidak mau membunuhnya hanya untuk kumiliki. Egois sekali pikirku. Aku sungguh ingin memilikinya, tapi dalam keadaan hidup dan sehat. Bunga ini benar – benar membuatku bingung. Sangat bingung sampai aku hampir pergi meninggalkannya.


        Hey, tunggu dulu.. mungkinkah? Aku tidak sampai hati meninggalkannya karena aku sudah memilikinya, hidup – hidup. Sungguh senang rasanya menyadari hal itu. Apa yang kupikirkan sejak tadi sepertinya hanya sekedar omong kosong yang amat sangat bodoh. Jelas  aku telah memilikinya sedari tadi, karena itu aku merasa berat untuk pergi meninggalkan bunga putih ini. Aku akan terus merawat dan menjaganya agar tetap hidup dengan sehat. Baru kali ini aku tersenyum lebar sampai menitikkan air mata. Sungguh – sungguh senang, riang gembira bersama bunga ini. Kupikir dia juga merasakan hal yang sama. Ini benar – benar hebat, aku bersama setangkai bunga sekarang!



Sunday, February 20, 2011

Semi-Angel Demi-Devil


Kata mereka, ada dua jenis manusia.
yang baik, dan yang buruk.

Misal, Si A merokok di tempat umum yang dipenuhi oleh anak kecil dan orang tua, sambil minum sekaleng bir, menyenggol ibu-ibu sampai terjerembab ke aspal, dan sembarangan membuang puntung rokok beserta kaleng birnya di jalanan.

Misal, Si B menolong anak kecil yang sepedanya rusak, memberikan uang untuk pemulung, kemudian membantu nenek-nenek yang ingin menyebrang jalan, sampai rela rusuknya patah untuk menolong orang yang nyaris tertabrak truk.


Misal, Si X bersama anaknya menjadi saksi dari kejadian - kejadian tersebut.
Maka Si X akan segera 'membimbing' anaknya;

"Kamu jangan seperti Si A ya nanti kalau sudah besar, anak rusak berandalan yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar dan tidak punya masa depan. Dia itu orang jahat."

"Kamu harus seperti Si B yang sangat dermawan, peduli, berdedikasi, dan tidak cuek dengan lingkungannya. Dia adalah orang baik."

...

Hal ini akan berubah menjadi sangat membingungkan ketika pada kenyataannya,
Si A dan Si B ternyata merupakan satu orang yang sama.

Seperti koin yang akan selalu memiliki dua sisi.
Paradoks dualisme.

...

Jadi, label manakah yang pantas diberikan untuknya?

Baik buruk?

Benar salah?

Kiri kanan?

Hitam putih?

Ini terjadi pada semua orang bukan?

...

Menurut Shakespeare;

'There is nothing either good or bad.
But thinking makes it so..'

Mengenai label dan cap, sebagian besar orang merujuk pada impresi awal, sifat - sifat serta tindakan - tindakan yang terlihat dominan. Yang menurut kita benar. Dengan definisi yang kita ciptakan sendiri.

Impresi awal memang sulit untuk diubah. Bahkan terkadang kita tidak menyadari bahwa kita telah menyematkan label pada seseorang. Akan tetapi, apakah pantas jika seluruh sifat dan kepribadian seseorang yang amat sangat kompleks hanya diwakilin dengan satu kata saja?

Gelap terang.

...

Lalu?

Mungkin kita senang bermain sebagai Tuhan.  Menghakimi segala hal berdasarkan persepsi kita masing - masing, dan menganggapnya sebagai yang Maha Benar.

Sesuka hati saja.



Muhammad Iskandar Satriyo Utomo.

Tuesday, January 11, 2011

The Architect


Have a super-amazing incredible breath-taking heart-stopping extraordinary SKILL OF DRAWING?

Then, be a drafter instead.

...

Being an architect is somewhat complicated. It's not that simple. But in the same time, it's not that complex too.

It's about how many ways of thinking you have, taking desicions, twisted paradigms, swimming in other people's thoughts,

reading psychological minds, predicting the cause and it's consequences, confidence, arrogance, building up idealism, contemplating, sense of creating,

stimulating imaginations, breaking the laws, cross the border, surpass the limit, constructing elements, dealing with ego, time and space,

socialization, completing the puzzles, learning the habit, presenting ideas, structures, theme and concepts, an enormous amount of self-esteem,

critical thinking, gives 'life', feel what others felt, harmony, luck, logic, rules, respect, illusion, philosophy, justice, freedom, aesthetics...

and so on and on and on..

and on.

...

Yes, it's not that i forgot to put some 'drawing skill' on the list, but i don't think i have to. It's out of context.

It's not about drawing.
Seriously.

It's about architecture.

...

One of my architecture book has this written on it:

"an engineer is a specialist. an architect is a generalist.a specialist knows everything about one thing.
but a generalist knows one thing about everything."

An architect is a creator. They're not just randomly making things, they CREATE it.

They create something tangible from the intangible.
From void to solid. From nothing to something.

Engineers are making buildings.
Industrialists are making products.
Doctors are making their patients stay healthy.
Lawyers are making the law runs smoothly.
Businessmen are making money.

But, what's the difference between making and creating?

Let God be an example; He
created humans
created animals
created plants
created planets
created stars
created life
created angels
created devils
created heaven
created hell
created atoms, molecules, particles, this whole universe...

And architects are creating desireable spaces.
A manmade environment for engineers, doctors, lawyers, businessmen/women, to work in.
To live in.
To use it for their own purposes.


Good architecture is something that can make people want to do these things such as;

see it with their own eyes,

hear it with their own ears,

taste it with their own tongue,

touch it with their own hands,

smell it with their own nose,

feel it with their very own heart.


and they'll want to have it, to own it, possess it.

...

So, it isn't about buildings (and drawing).

We all know that our Performance Art is NOT A BUILDING.
It's a masterpiece of creation created by ARCHITECTS.

A good one.
A very good one i think.

it's
creation
thinking
design
art

It's everything

And,
it's about us.





Muhammad Iskandar Satriyo Utomo untuk teman - teman seperjalanan. Semangat kawan!

Monday, January 10, 2011

Piano

aku terbangun di tengah deras hujan yang menerpa wajah. terdengar sayup - sayup suara anak - anak yang sedang kegirangan. aku berusaha memusatkan pendengaranku pada mereka. kudengar dentingan piano mengalun merdu di kejauhan. terkadang lembut, namun sesekali menghentak pelan. sungguh indah.

aku berdiri, dan berjalan menyusuri jalan setapak di halaman. tanganku membeku dan kaku. tubuhku terasa remuk. langkah kakiku sangat sulit kukendalikan. aku terus berjalan, dipayungi langit berbintang. kulihat kedua anak laki - laki itu sedang bermain hujan. wajah mereka terlihat sangat riang. aku ingin sekali ikut bermain dengan mereka. namun wajahku tak seriang mereka. sebaiknya aku urungkan saja niatanku itu. aku tidak mau menghancurkan kesenangan mereka berdua.

aku berjalan melewati anak - anak itu. tak jauh dari sebuah rumah tua yang cantik. alunan musik terdengar semakin jelas. nada - nada berirama memenuhi kepalaku. aku terus berjalan menuju rumah tua itu. pintunya sedikit terbuka. gelap. kemudian aku berjalan melangkah masuk. kali ini sudah tidak kehujanan.

aku terus berjalan dituntun oleh alunan piano. di depanku terlihat sebuah pintu. di sana ada cahaya. sedikit. aku memberanikan diri untuk membuka pintu itu. sampailah aku pada seorang gadis kecil yang cantik. sang pemain piano. gadis itupun terus memainkan pianonya. sungguh pemandangan yang sangat indah. seperti malaikat kecil yang bersinar. akhirnya aku dapat tersenyum.

di sini terasa sangat hangat. tubuhku sudah tidak kaku lagi. dan gadis itupun terus memainkan pianonya. sangat merdu. terkadang nadanya menjadi sangat tinggi dan dalam sekejap merendah lagi. sesekali gadis itu menengadahkan kepalanya ke atas. seakan berbicara dengan Tuhan. aku duduk disebelah gadis itu. namun perhatiannya terus tertuju pada jari jemarinya yang memainkan nada - nada indah.

aku melihat ke altar di balik pianonya. terlihat foto seseorang yang dibingkai dengan sangat indah, dikelilingi bunga - bunga berwarna - warni. diterangi cahaya lilin remang - remang, aku mengenali foto orang itu. Tidak salah lagi, itu aku. dan di bawah fotoku, kulihat sebuah karangan bunga berbentuk tulisan. di sana tertulis dengan sangat jelas: 

“Istirahatlah dengan tenang, ayah.”



Muhammad Iskandar Satriyo Utomo